Sunday, June 4, 2017

Hari Baik Memulai Usaha Ala Jawa

Menurut H. Djanudji dalam bukunya Penanggalan Jawa 120 Tahun Kuruf Asapon disebutkan bahwa ada dua jenis hari baik untuk usaha yaitu hari baik untuk mulai berdagang dan hari baik untuk mulai berdagang di jalanan. Saya menginterpretasikan bahwa yang pertama adalah untuk usaha dagang barang maupun jasa dengan tempat usaha yang tetap sedangkan yang kedua adalah untuk tempat usaha bergerak termasuk berdagang lewat internet. Hari baik memulai usaha dagang yang dimaksud adalah hari ke empat atau hari Yamadipati dari siklus Hastawara Padewan, sedangkan hari baik untuk memulai usaha dagang bergerak adalah hari ke lima atau Nohan (Rembulan) dari siklus Nawawara Padangon dari almanak Jawa

Baca seluruhnya...

Pemilahan (seleksi) perlu dilakukan terlebih dahulu agar hari-hari larangan dan hari-hari tidak baik bisa dikesampingkan dari daftar hari yang disediakan sehingga nantinya hari baik untuk memulai usaha bisa dipilih dari daftar hari yang telah bebas dari hari-hari larangan dan tidak baik.

Terdapat dua sumber atau dasar penggolongan larangan dalam numerologi Jawa yaitu larangan yang berdasarkan kepada pawukon (wuku) dan yang berdasarkan kepada tanggal, bulan, tahun, dan warsa kalender Jawa. Larangan atau yang lebih dikenal dengan nama Waler Sangker adalah waktu yang menjadi larangan, baik yang berdasarkan pawukon maupun bukan, dan perlu dihindari atau dicarikan jalan keluar agar terhindar dari bahaya dan malapetaka. Waler Sangker yang berasal dari pawukon, antara lain :
  • Tangise Dewi Sinta
  • Anggara Kasih
  • Taliwangke
  • Nuju Padu
  • Dina Ora Kanggonan Tanggal
  • Ringkel Jalma
  • Kala Dite
  • Kala Tinantang
  • Nuju Pati
  • Dungulan
  • Sampar Wangke
  • Sarik Agung
  • Kala Mendhem
  • Jabung Kala Wuku Jaya Bumi
Dan yang berdasarkan tanggal, bulan, tahun, dan warsa adalah sebagai berikut:
  • Bulan Sunya
  • Bangas
  • Rebo Wekasan
  • Naas Tahun
  • Sangar Tahun
  • Naas Wulan
  • Sangar Wulan
  • Naas Tanggal
  • Sangar Tanggal
  • Galengan Taun
  • Kunarpane Taun
Jabung Kala Wuku Jaya Bumi mempunyai pengertian tempat angker dan dilarang untuk mendatangi atau menuju ke arah tempatnya wuku akan tetapi mengarah/menghadap ke tempatnya adalah jaya. Jika kita melawan musuh usahakan musuh berada ditempat wuku dan kita berhadapan dengannya.

Melalui perhitungan yang rinci diketahui bahwa jumlah hari larangan berdasarkan pawukon adalah sebanyak 140 hari per 210 hari siklus pawukon atau 67%, sedangkan jumlah hari buruk berdasarkan tanggal, bulan, tahun, dan warsa adalah sebesar 178.625 hari per satu tahun kalender Jawa atau 50%. Jadi kita tidak akan mendapatkan terlalu banyak hari baik yang bertepatan dengan hari Yamadipati atau Nohan (Rembulan).Berikut adalah daftar hari baik memulai usaha yang diperoleh melalui proses yang dijelaskan diatas.

Daftar Hari Baik Mulai Usaha Dagang
Je Sura 1950 - Dal Bakdamulud 1951
MasehiJawaDununge Wuku
29-Oct-201627-Sura-1950 Utara
01-Jan-20172-B.Mulud-1950 Utara
02-Feb-20175-J.Awal-1950 Barat
14-Mar-201715-J.Akhir-1950 Utara
30-Jul-20176-Sela-1950 Utara
07-Aug-201714-Sela-1950 Baratdaya
29-Nov-20179-Mulud-1951 Baratlaut
23-Dec-20173-B.Mulud-1951 Utara

Daftar Hari Baik Mulai Usaha Dagang Bergerak
Je Sura 1950 - Dal Bakdamulud 1951
MasehiJawaDununge Wuku
28-Oct-201626-Sura-1950 Utara
03-Dec-20163-Mulud-1950 Tenggara
07-Feb-201710-J.Awal-1950 Tenggara
15-Mar-201716-J.Akhir-1950Utara
13-Jun-201718-Pasa-1950 Timurlaut
01-Jul-20176-Sawal-1950 Tenggara
05-Sep-201713-Besar-1950 Tenggara
11-Oct-201719-Sura-1951 Utara
22-Dec-20172-B.Mulud-1951 Utara

Yen ingkang sukses ojo lali karo ingsun. Semoga bermanfaat.

Rujukan

H. Djanudji, Penanggalan Jawa 120 Tahun Kuruf Asapon, Dahara Prize, Semarang, 2013

Thursday, May 18, 2017

Weton Dalam Kalender Jawa

Dalam terminologi matematika Weton dalam kalender Jawa adalah sebuah Himpunan Pasangan Berurutan. Anggota dari himpunan Dina = {Minggu, Senen, Selasa, Rabu, Kamis, Jumat, Sabtu} dipasangkan sampai habis dengan anggota dari himpunan Pasaran = {Pahing, Pon, Wage, Kliwon, Legi}. Jika anggota himpunan diwakili oleh angka maka dapat kita nyatakan: Dina = {0, 1, 2, 3, 4, 5, 6} dan Pasaran = {0, 1, 2, 3, 4} dan himpunan hasil Weton = { (0,0), (1,1), (2,2), (3,3), (4,4), (5,0), (6,1), .....(5,3), (6,4)}.

Baca seluruhnya...

Angka Identitas Elemen Weton

Agar bekerja dengan perhitungan Weton menjadi lebih mudah maka setiap elemen atau anggota himpunan Weton diberikan identitas. Caranya bisa bermacam-macam tetapi dua cara seperti diperlihatkan oleh Tabel 1 dibawah ini adalah cara yang lazim dilakukan orang.

Tabel 1. Angka Identitas Elemen Weton
WetonId Weton 1Id Weton 2
DinaPasaran
0 Minggu 0 Pahing00 0
1 Senen 1 Pon 11 1
2 Selasa 2 Wage 22 2
3 Rabu 3 Kliwon33 3
4 Kamis 4 Legi 44 4
5 Jumat 0 Pahing50 5
6 Sabtu 1 Pon 61 6
0 Minggu 2 Wage 02 7
1 Senen 3 Kliwon13 8
2 Selasa 4 Legi 24 9
3 Rabu 0 Pahing30 10
4 Kamis 1 Pon 41 11
5 Jumat 2 Wage 52 12
6 Sabtu 3 Kliwon63 13
0 Minggu 4 Legi 04 14
1 Senen 0 Pahing10 15
2 Selasa 1 Pon 21 16
3 Rabu 2 Wage 32 17
4 Kamis 3 Kliwon43 18
5 Jumat 4 Legi 54 19
6 Sabtu 0 Pahing60 20
0 Minggu 1 Pon 01 21
1 Senen 2 Wage 12 22
2 Selasa 3 Kliwon23 23
3 Rabu 4 Legi 34 24
4 Kamis 0 Pahing40 25
5 Jumat 1 Pon 51 26
6 Sabtu 2 Wage 62 27
0 Minggu 3 Kliwon03 28
1 Senen 4 Legi 14 29
2 Selasa 0 Pahing20 30
3 Rabu 1 Pon 31 31
4 Kamis 2 Wage 42 32
5 Jumat 3 Kliwon53 33
6 Sabtu 4 Legi 64 34

Meskipun mudah, yaitu cukup dengan menggandeng angka dina dan pasaran, sayangnya angka-angka yang dihasilkan oleh cara pertama ternyata tidak berurutan. Karena alasan ini, Id Weton 1 tidak bisa digunakan untuk perhitungan siklus Weton. Operasi matematika Modulus 35 atau sisa pembagian sebuah bilangan bulat dengan 35 (satu perioda siklus Weton) harus digunakan untuk menghasilkan sisa antara 0 s/d 34, seperti yang diperlihatkan oleh contoh program Javascript dibagian akhir artikel ini.


Gambar 1. Fungsi.


Gambar 2. Inverse Fungsi.

Fungsi dan Invers Fungsi

Fungsi antara Weton dan Id Weton 1 yaitu
f : weton → idweton1 = f(dina, pasaran)
dapat dengan mudah diketahui yaitu
f(dina, pasaran) = 10 x dina + pasaran
Contoh:
f(Rabu, Legi) = f(3, 4) = 30 + 4 = 34.

Invers dari fungsi yaitu:
f-1: idweton1 → weton = f-1(idweton1)
dapat dengan mudah diketahui sebagai
f-1(idweton1) = {dina | dina = int(idweton1/10), pasar | pasar = idweton1 mod 10}
Contoh:
f-1(54) = {int(54/10)=5, 54 mod 10 = 4} ={Jumat, Legi}

Sedangkan invers fungsi antara Weton dan Id Weton 2
f-1: idweton2 → weton = f-1(idweton2)
Ternyata memberikan kemudahan yang disukai programer.
f-1(idweton2) = {dina | dina = idweton2 mod 7, pasar | pasar = idweton2 mod 5}
Contoh:
f-1(23) = {23 mod 7 = 2, 23 mod 5 = 3} ={Selasa, Kliwon}

Fungsi antara Weton dan Id Weton 2 yaitu
f : weton → idweton2 = f(dina, pasaran)
tidak terlalu mudah untuk dipecahkan. Solusinya bisa diperoleh secara empiris dan bersifat nontrivial (tidak tunggal). Berikut adalah salah satu yang berhasil saya temukan.
f(dina, pasaran) = 5 x ((3 x dina + 4 x pasar) mod 7) + pasar
Contoh:
f(Jumat, Pon) = f(5, 1) = 5 x ((3 x 5 + 4 x 1) mod 7) + 1 = 5 x (19 mod 7) + 1 = 5 x 5 + 1 = 26.

Dua Rumus terakhir diatas menjadi diperlukan ketika anda mengerjakan numerologi Jawa.

Program Javascript Menghitung Weton Sebuah Tanggal

Cara menghitung weton yang digunakan adalah sama dengan Cara Menghitung Pilar Hari. Jika kita mengetahui sebuah hari patokan, misalnya, 1 Januari 2016 adalah hari Jumat Kliwon yang mempunyai id = 33, maka nomor Id Weton dari tanggal yang lain bisa dihitung dengan rumus:

A = sisa pembagian (Rentang Hari/35) + 33
B = A + 35
IdWeton2 = sisa pembagian (B/35)

Dimana Rentang Hari adalah selisih hari antara tanggal patokan dengan tanggal yang akan dicari wetonnya.


Semoga bermanfaat.

Rujukan:

Materi Matematika Pasangan Berurutan

Sunday, April 30, 2017

Kuruf Dalam Kalender Jawa

Sejak raja Mataram Sri Sultan Agung Prabu Hanyokrokusumo menetapkan hari Jumat Legi 1 Muharam 1043 H (8 Juli 1633 M ) sebagai 1 Suro 1555 AJ. Sejak itulah kalender Jawa dan Hijriah masing-masing menjalankan siklusnya. Panjang siklus satu tahun kalender Jawa adalah (5 x 354 + 3 x 355) / 8 = 354 3/8 hari sedangkan panjang siklus satu tahun kalender Hijriah adalah (19 x 354 + 11 x 355) / 30 = 354 11/30 hari.

Tampak disini bahwa satu tahun kalender Jawa lebih besar dari kalender Hijriah. Agar dalam kurun waktu yang panjang kalender Jawa tidak hanyut (drift) terhadap kalender Hijriah maka diperlukan Kuruf yaitu secara sengaja memajukan satu hari tanggal kalender Jawa atau dengan perkataan lain menghilangkan satu hari tanggal kalender disetiap penghujung siklus 120 tahunan. Tanggal yang dihilangkan tersebut adalah tanggal 30 bulan Besar tahun Jumakir (yang seharusnya 355 hari atau kabisat menjadi 354 hari saja). Jadi setelah tanggal 29 Besar tahun Jumakir kalender melompat satu hari dan melanjutkan dengan 1 Suro tahun Alip yang bertepatan dengan 1 Muharram kalender Hijriah.

Mengapa harus 120 tahun sekali?

Baca seluruhnya...

Karena dalam setahun selisihnya adalah 3/8 - 11/30 = 1/120 hari. Maka dalam 120 tahun akan berselisih satu hari. Berikut adalah perhitungan sederhananya
120 tahun kalender Jawa = 120 x 354 3/8 = 42525 hari.
120 tahun kalender Hijriah = 120 x 354 11/30 = 42524 hari.
Selisih = 42525 - 42524 = 1 hari.


Lukisan Sri Sultan Agung Prabu Hanyokrokusumo

Penting untuk dicatat bahwa pada saat itu kalender Jawa tepat mengakhiri 1215 x siklus weton (siklus 35 harian), jadi dapat dipastikan bahwa kalender telah kembali ke weton yang yang sama. Namun kalender Hijriah yang menjadi rujukan kalender Jawa sudah terlebih dahulu menutup siklus 120 tahunannya satu hari sebelumnya.

Bisa dibayangkan jika tidak dikuruf selama kurun waktu 1200 tahun kalender Jawa akan terhanyut sebanyak 10 hari dari kalender Hijriah yang menjadi kiblat atau rujukannya.

Perhitungan Kuruf

Patok Jumuwah-Legi 8 Juli 1633 M adalah tanggal yang umumnya digunakan untuk menghitung kuruf. Berikut adalah program Visual Basic untuk menghitung kapan kuruf harus dilaksanakan.


Jika program dijalankan outputnya adalah sebagai berikut.

08 Jul 1633 Jemuwah-Legi AWAHGI
11 Dec 1749 Kemis-Kliwon AMISWON
16 May 1866 Rebo-Wage ABOGE
19 Oct 1982 Selasa-Pon ASAPON
23 Mar 2099 Senen-Pahing ANENING
27 Aug 2215 Minggu-Legi AGUGI

Nama Kuruf merupakan singkatan dari tiga suku kata singkatan yaitu (A)lip (warsa pertama) + (Se(nen), Sela(sa), Re(bo), Ke(mis), (Je)mu(wah), Sab(tu)) + (Kli(won), Le(gi), Pa(ing), (Pon), wa(Ge)).

Sifat Kalender Hijriah dan Riwayat Pengkurufan Kalender Jawa

Sesungguhnya kalender Hijriah mempunyai sifat (arithmetical property) yang unik sebagai berikut.

Tanggal apapun jika kita tambahkan sejumlah hari sebesar siklus 30 tahunan kalender Hijriah (10631 hari) atau kelipatan bilangan bulatnya, misalnya 4 x 30 = 120 tahunan (42524 hari), maka kita akan kembali ke tanggal dan bulan yang sama (dan, tentu saja, dengan hari dan angka tahun yang berbeda).

Kuruf pertama dilaksanakan 42524 hari setelah 8 Juli 1633 M yaitu pada Kemis-Kliwon 11 Desember 1749 M (1675 AJ, 1163 H). Kuruf ini sudah tepat dan sesuai dengan sifat kalender Hijriah tersebut diatas. Kuruf kedua dan seterusnya seharusnya dilaksanakan setiap 42524 hari sekali seperti yang dilakukan oleh perhitungan program Visual Basic.

Namun entah bagaimana cara ini tidak konsisten dilakukan. Mungkin dianggap kurang tepat karena 8 Juli 1633 M bukan awal dari siklus 30 tahunan kalender Hijriah melainkan awal tahun ke 23 dari siklus 30 tahunan tersebut.

Kuruf kedua dilakukan 25514 hari setelah 11 Desember 1749 M (yang pertama) dan jatuh pada Rebo-Wage 20 Oktober 1819 M (1747 AJ, 1235 H) Kuruf ini sesungguhnya tidak menyebabkan kalender Jawa menjadi sejalan (aligned) dengan Hijriah seperti yang diinginkan. Sejalan dalam pengertian bahwa awal kuruf harus selalu terjadi tepat diawal siklus 30 tahunan kalender Hijriah.

20 Oktober 1819 M adalah 1 Muharram 1235 H dan satu hari sebelumnya adalah 30 Dzulhijjah 1234 H. Dari angka tahun segera dapat kita ketahui bahwa 1234 tidak habis dibagi 30. Lebih tepatnya 41 x 30 tahun + 4 tahun kalender Hijriah. Artinya keputusan ini cuma mengganti awal kuruf yang tadinya berawal di tahun ke 23 menjadi tahun ke 5 dari siklus 30 tahunan kalendar Hijriah. Tidak kurang dan tidak lebih. Jadi tetap tidak aligned dengan kalender Hijriah sebagaimana diharapkan.

Kuruf kedua bukan dilakukan karena kalender Jawa yang akan terhanyut oleh waktu yang sesungguhnya akan tetapi dilakukan karena pergantian patok yang awalnya 1 Muharram 1043 H (8 Juli 1633 M) menjadi 1 Muharram 1051 H (12 April 1641 M) yaitu awal siklus 30 tahunan terdekat dengan tanggal dimulainya kalender Jawa. Jika patok diganti maka pada suatu titik waktu setelah kuruf yang pertama pasti akan terjadi selisih 1 hari dan harus dikuruf sebelum 120 tahun kalender Hijriah sebenarnya terlewati.

Sejak Rebo-Wage 20 Oktober 1819 M (1747 AJ, 1235 H), pengkurufan kalender Jawa ditetapkan berlanjut konsisten yaitu setiap 42524 hari sekali. Kuruf resmi kalender Jawa dapat dihitung dengan program Visual Basic yang sama dengan menggunakan patokan 20 Oktober 1819 M.

Kuruf Resmi Kalender Jawa
08 Jul 1633 Jumuwah-Legi
11 Dec 1749 Kemis-Kliwon
20 Oct 1819 Rebo-Wage
24 Mar 1936 Selasa-Pon
26 Aug 2052 Senen-Pahing
29 Jan 2169 Minggu-Legi


Kuruf Ideal

Kuruf ideal adalah kuruf yang menyebabkan kalender Jawa aligned dengan Hijriah. Berikut adalah hasil perhitungan menggunakan tanggal patok 12 April 1641 M atau 1 Muharram 1051 H atau awal dari siklue 30 tahunan kalender Hijriah. Tahun 1641 M adalah tahun terdekat dengan 1633 M atau 8 tahun setelah kalender Jawa ditetapkan.

Kuruf Ideal
12 Apr 1641 Jumuwah-Legi
15 Sep 1757 Kemis-Kliwon
18 Feb 1874 Rebo-Wage
24 Jul 1990 Selasa-Pon
27 Dec 2106 Senen-Pahing

Sayang tanggal 24 Juli 1990 M sudah berlalu dan tidak ada koreksi yang dilakukan agar kalender Jawa aligned dengan Hijriah. Kesempatan lain adalah tanggal 27 Desember 2106 M. Karena akibatnya yang tidak bisa diketahui terhadap sejarah dan administrasi kesultanan, apakah akan terlaksanakan, wallahualam.

Semoga bermanfaat.

Ucapan Terima Kasih

Terima kasih saya ucapakan kepada bapak Hendro Jatmiko dari Sidoarjo, Jawa Timur, yang telah memberikan kritik dan sarannya yang tak ternilai mengenai kuruf dalam kalender Jawa. Terlebih literatur-literatur dan lembar kerja MsExcel perhitungan kurufnya.

Rujukan

H. Djanudji, Penanggalan Jawa 120 Tahun Kuruf Asapon, Dahara Prize, Semarang, 2013
R.Bratakesawa, Almanak Atusan Taun, Penjebar Semangat, Surabaja, 1968
Kalender Jawa
Kalender Hijriyah

Wednesday, January 11, 2017

Shio Ciong dan Hap Tahun 2017

Tahun ini, sejak 03 Februari 2017, disebut tahun Dīngyǒu (丁酉) atau Ayam Api Yin. Biasanya orang ingin tahu shio apa saja yang ciong (clash) dengan tahun Ayam maksudnya agar sipemilik shio bisa berupaya lebih sadar dan waspada terhadap kejadian-kejadian yang kurang baik sebelum bertindak. Lawan dari ciong adalah hap (in harmony) dengan tahun Ayam maksudnya juga sama agar sipemilik shio sadar dan waspada dan bertindak seandainya ada peluang baik muncul tahun ini.

Baca seluruhnya...

Untuk ciong, rumusan yang digunakan adalah pola segi-empat karena dalam pola ini terbentuk sudut siku (90 derajat) dan diametral (180 derajat). Untuk hap, rumusan yang digunakan adalah pola segi-tiga yang berasal dari segi-tiga afinitas atau 三合 (san he - tiga bersama).
Shio yang Ciong dan Hap 2017
Gambar 1. Segi-empat Ciong dan Segi-tiga Hap.
You( 酉) adalah huruf yang mewakili tahun Ayam 2017.

Jadi pada tahun 2017 yang ciong adalah shio Tikus (子), Kelinci (卯), Kuda (午) dan Ayam (酉) itu sendiri. Sedangkan yang hap adalah shio Kerbau (丑) dan Ular (巳).

Jika faktor wuxing (dinamika lima unsur) dipertimbangkan maka shio yang paling ciong adalah shio Kelinci Logam Yin (Xinmao 辛卯) yakni kelahiran antara 4 Februari 1951 s/d 4 Februari 1952 dan 4 Februari 2011 s/d 3 Februari 2012 dan Ayam Logam Yin (Xinyou 辛酉) yakni kelahiran antara 5 Februari 1981 s/d 3 Februari 1982 Sedangkan Tikus Logam Yang (Gengzi 庚子) kelahiran 5 Februari 1960 s/d 3 Februari 1961 dan Kuda Logam Yang (Gengwu 庚午) kelahiran 4 Februari 1990 s/d 3 Februari 1991, mengalami ciong 'lebih kecil' yang harus diwaspadai agar tidak tumbuh menjadi besar.

Secara umum jagalah kesehatan anda terutama yang lemah pada organ tubuh yang berhubungan dengan 'logam' seperti paru-paru, usus besar, hidung dan kulit dan rambut. Senjata yang paling ampuh untuk mengurangi energi buruk adalah dengan cara mengirimkan energi baik yaitu berbuat kebaikan, dimana saja, kapan saja, dan kepada siapa saja yang memerlukannya.

Rujukan:

1. Santoso Chandramulyana, 八子 Ba Zi (Delapan Karakter) Seni Menganalisis Segmen-segmen Waktu dalam Perjalanan Hidup Manusia, PT. Elex Media Komputindo, 2007.

Thursday, December 29, 2016

Kalender Buddha Baru

fu

Kalender Buddha Baru (Fase Bulan Sejati) telah dipindahkan kelaman berikut ini: https://kalenderimlek.blogspot.com/ p/kalender-buddha.html

Sekelumit latar belakang kalender Buddha bisa anda baca pada Kalender Buddha Suriyayatra.

Kalender Buddha Baru Astronomis - Sebuah Usulan


Artikel ini mengusulkan sebuah kalender Buddha baru yang berjenis lunisolar astronomis. Berharap bahwa kalender ini bisa diterima sebagai sebuah kalender Buddha moderen karena sifatnya ajeg dan akurat Kalender baru ini hanya mengganti model tata surya yang digunakan dalam perhitungan yaitu dari model lingkaran jarum jam sederhama menjadi model eliptikal keplerian (seperti yang digunakan kalender imlek), sedangkan aturan-aturan atau ketentuan-ketentuan tentang uposatha dan hari-hari raya agama Buddha lainnya tidak mengalami perubahan sama sekali. Kalender baru ini hanya memerlukan sedikit sentuhan regulasi oleh suatu badan seperti komisi kalender. Uraian dari usulan saya tersebut adalah sebagai berikut:

New Astronomical Buddhist Calendar - A Proporsal


This article proposes a new buddhist calendar, a lunisolar astronomical type of calender. Hope it would be accepted as a modern buddhist calendar since it is steady and accurate. It just replaces the solar system model from a simplistic clockwork model to a more sophisticated elliptical Keplerian model (as used in the chinese calendar). Whereas the rules or provisions concerning observance days (uposatha) and festivals do not change at all. It requires only minimum regulations by a body such as a calender committee. Descriptions of the proposal are as follows:

Baca seluruhnya...

  1. Equinox musim semi (Longitude = 0°) atau Chunfen 春分 atau tanggal 21 ±1 Maret digunakan sebagai titik acuan. Bulan gelap penuh atau konjungsi pertama setelah titik ini ditetapkan sebagai tahun baru kalender Buddha yaitu tanggal 1 Citta. Ketentuan ini adalah sama dengan ketentuan dalam kalender Buddha aritmatis yang menggunakan model tata surya lingkaran jarum jam sederhana.
    Spring equinox (Longitude = 0°) or Chunfen 春分 or 21 ±1 March is used as a reference point. The first new moon (or conjunctions) after this point is set to new year date or 1 Citta of the calendar. This is the same as the provision of the conventional arithmetic buddhist calendar that uses simplistic clockwork model.
  2. Panjang satu bulan adalah jumlah hari dari satu konjungsi ke konjugsi berikutnya. Berbeda dengan kaleder aritmetis, panjang ini tidak reguler tergantung dari hasil perhitungan astronomi dan besarnya 29 hari (bulan kecil) atau 30 hari (bulan besar).
    The length of a month is defined as the number of days from one conjunctions to the next. Unlike the aritmetical calendar, it is irregular and whether it is 29 days (small month) or 30 days (large month) is merely determined by the result of astronomical calculations.
  3. Tahun adhikamasa ditetapkan sebagai tahun dimana antara dua Equinox musim semi berturutan terdapat 13 kali konjungsi (bulan gelap penuh). Misalnya, antara 21 Maret 2014 dan 21 Maret 2015 terdapat 13 kali konjungsi maka tahun 2014 (2558 BE) adalah adhikamasa. Dengan ketentuan ini, kalender baru juga mempraktekan penggeseran hari peringatan (puja) yang sama dengan kalender konvensional ketika adhikamasa terjadi. Magha Puja dan Visakha Puja dipindah kepada bulan berikutnya, dan ditandai dalam bulan keempat dan ketujuh sebagai pengganti bulan ketiga atau keenam. Sumber dari praktek pergeseran ini tidaklah jelas, akan tetapi mempunyai keuntungan bahwa tidak akan terjadi jarak yang besar antara Visakha Puja dan Asalha Puja (yang jatuh pada bulan Asalha kedua pada tahun adhikamasa).
    Adhikamasa is defined as the year with 13 moon conjunctions in between two consecutive spring equinoxes. For example, there are 13 conjunctions between 21 March 2014 and 21 March 2015 then 2014 (2558 BE) is adhikamasa. By this provision, the new calendar applies the same practice as the conventional arithmetic calendar in term of shifting the pujas when adhikamasa occured. Magha Puja and Visakha Puja is shifted to the following month, and marked as the fourth and the seventh instead of third or sixth month. The source of this shifting practice is not clear, but has the advantage that there would not be a large distance between Visakha Puja and Asalha Puja (which falls in the second Asalha in adhikamasa).
  4. Interkalasi atau bulan pengganjal tahun selalu jatuh pada bulan Asalha (Asadha). Jadi akan terdapat dua buah bulan Asalha pada tahun adhikamasa. Ketentuan ini sama dengan ketentuan kalendar Buddha arithmatis konvensional.
    Intercalation or additional month always falling in Asalha (Asadha). So there will be two months of Asalha in adhikamasa. This provision is the same as the conventional arithmetic calendar.
  5. Penambahan satu hari tambahan sebayak 11 kali dalam 57 tahun pada bulan Jettha tidak diperlukan lagi. Jadi tidak ada tahun adhikavara dalam sistem kalender baru ini.
    The 11 times additions of an extra day for Jettha (adhikavaras) in the period of 57 years are no longer needed. So there are no adhikavaras in this new calendar system.
  6. Aturan-aturan atau ketentuan-ketentuan tentang uposatha dan hari-hari raya agama Buddha lainnya adalah sama dengan kalender sebelumnya.
    Observance days (uposatha) and buddhist festivals are determined using the same provisions as the conventional arithmetic calendar .
  7. Dalam sistem ini sumber utama perselisihan adalah karena hasil perhitungan yang berbeda tergantung pada mesin dan bahasa pemrograman yang digunakan. Ini disebut kesalahan round-off. Dalam waktu-waktu tertentu dimana perhitungan jatuhnya konjungsi bulan oleh para pihak ternyata berbeda sedikit (dalam orde beberapa menit saja) namun akan dihitung sebagai berbeda satu hari. Misalnya komputer pihak A menghitung bahwa konjungsi terjadi pada 3 November 2013 23:59:58 (JD = 2456600.49998) sedangkan komputer B pada 4 November 2013 00:01:08 (JD = 2456600.50079), meskipun perbedaannya sedikit (70 detik atau 0.00081 hari) tetapi karena jatuh disekitar waktu pergantian hari, hasilnya menjadi terhitung berbeda 1 hari. Menurut saya ini adalah tugas dari komisi kalender untuk membuat regulasi agar perbedaan ini tidak terjadi.
    The main cause of disagreement is due to different machines and programming languages used that result in different calculation results. This is called the round-off error. For example, computer A calculates that the moon conjunctions is on 3 November 2013 23:59:58 (JD = 2456600.49998), while computer B is on 4 November 2013 00:01:08 (JD = 2456600.50079), although the difference is small (70 seconds or 0.00081 days) but it is accounted as one whole day (3rd November and 4th November according to A and B respectively). This is because the moon conjunctions occured around the day change, even though it rarely happens but it exists. I leave it to be solved by the calendar committee.


fu

Kalender Buddha Baru (Astronomis)


Pilih Tahun:   

Loader.gif

Rujukan:

1. Gambhiro Bhikkhu & Hasapanno Bhikkhu, Calculating The Uposatha Moondays, v1.0 - 24th November 2015.
2. Jean Meeus, Astronomical Algorithm, Willmann-Bell Inc., Virginia, Second Edition, 1991.


Friday, November 25, 2016

Kalender Buddha Suriyayatra

Kekurangan dari formula Suriyayatra adalah penentuan tahun Adhikamasa/kabisat yang tidak akurat. Oleh karena itu, saya juga membuat Kalender Buddha Fase Bulan Sejati yang jauh lebih baik dibandingkan perhitungan Suriyayatra. Check it out!
Kalender Buddha Suriyayatra adalah kalender berjenis lunisolar arithmatis. Artinya perhitungan memakai siklus bulan dan matahari sedangkan kata arithmatis mengacu kepada jumlah hari dalam setiap bulan yang ditentukan secara arithmatika sama halnya seperti kalender masehi atau kalender jawa. Berikut adalah kalender Uposatha, Terang Gelap, dan Hari Raya Agama Buddha menurut perhitungan Suriyayatra.

Dharma Wheel

Kalender Buddha Suriyayatra


Pilih Tahun:

Loader.gif


Oleh karena panjang setahun siklus bulan lebih pendek dari matahari maka tipikal kalender lunisolar adalah terdapatnya interkalasi bulan atau bulan pengganjal tahun. Interkalasi harus dilakukan agar siklus bulan kembali sinkron dengan matahari.

Baca seluruhnya...

Jika dalam kalender imlek interkalasi bulan atau Lungwee bisa terjadi antara bulan 1 sampai 11 maka dalam kalender Buddha interkalasi selalu dipasang pada bulan Asalha (Asadha). Jadi pada tahun dimana terdapat interkalasi akan ada dua bulan Asalha dan biasanya dinamakan sebagai Asalha pertama dan Asalha kedua. Tahun dimana terdapat interkalasi bulan disebut tahun Adhikamasa.

Tabel 1. Nama Bulan dan Jumlah Hari Dalam Kalender Buddha
#Bulan (Sansekerta)Bulan (Pali)Jumlah Hari
01Caitra Citta29 hari
02Vaisakha Visakha30 hari
03Jyaistha Jettha29 hari
04Asadha Asalha30 hari
05Sravana Savana29 hari
06Bradapada Bhaddapada30 hari
07Asvina Pavarana29 hari
08Karttika Kattika30 hari
09Margasirsa Magasira29 hari
10Pausa Phusa30 hari
11Magha Magha29 hari
12Phalguna Phagguna30 hari
Total: 6 x (29+30) = 354 hari

Kalender Buddha memakai perhitungan Mahayuga. Satu mahayuga setara dengan 4.320.000 tahun atau terdiri dari 1.577.917.800 hari, jadi panjang satu tahun matahari menurut perhitungan mahayuga = 1.577.917.800 / 4.320.000 = 365.25875 hari. Angka ini berselisih 0.01656 hari dibandingkan dengan panjang satu tahun tropis (365.24219 hari) dan hampir sama dengan panjang satu tahun sideris yaitu 365.25636 hari.

(*) Satu tahun tropis atau satu tahun matahari adalah waktu yang diperlukan bumi mengitari matahari satu revolusi penuh yaitu interval waktu antara ekuinoks vernal dari tahun ke tahun. Tahun sideris adalah waktu yang dibutuhkan oleh Bumi untuk berputar mengelilingi Matahari dalam sekali putaran terhadap bintang tetap. Oleh sebab itu, satu tahun sideris juga merupakan waktu yang dibutuhkan oleh Matahari untuk kembali ke posisi yang sama terhadap bintang tetap setelah mengelilingi ekliptika.

Karena panjang setahun matahari mahayuga adalah 365.25875 hari maka siklus bulan setiap tahunnya ketinggalan atau tekor sebesar 365.25875 - 354 = 11.25875 hari. Untuk menutupi kekurangan tersebut dalam kurun waktu 19 tahun (siklus meton) kalender Buddha harus menyisipkan 7 kali bulan tambahan (Asalha tambahan @ 30 hari)

19 tahun mahayuga = 19 x 365.25875 = 6939.91625
19 tahun Buddha = 19 x 354 + 7 x 30 = 6936
-----------------------------------------------------------
Selisih = 3.91625 hari.

Ternyata dalam kurun waktu 19 tahun masih ada selisih 3.91625 hari. Untuk menutupi kekurangan ini diperkenalkan konsep tahun Adhikavara yaitu tahun dimana bulan Jettha ditambah satu hari sehingga menjadi 30 hari. Penambahan tersebut dilaksanakan dalam kurun waktu yang lebih panjang yaitu 57 tahun (3 kali siklus meton) sebanyak 11 kali.

57 tahun mahayuga = 3 x 6939.91625 = 20819.74875
57 tahun Buddha = 3 x 6936 = 20808
------------------------------------------------------------
Selisih = 11.74875 atau 11 hari.

Penyimpangan kalender Buddha terhadap tahun tropis selama 57 tahun adalah

(20808 + 11) - (57 x 365.24219) =
20819 - 20818.80483 =
0.19517 hari.

Apabila periode 57 tahun kalender Buddha hendak disinkronkan dengan 57 tahun tropis, koreksi pengurangan 1 hari seharusnya diberikan setiap 292 tahun sekali. Koreksi ini penting agar dalam kurun waktu yang panjang kalender Buddha tidak terhanyut (drifted), agar kalender dan keadaan alam sebenarnya tidak berbeda terlalu jauh.

Patokan Tahun Buddha dan Notasi Tahun Astronomis

Secara tradisonal patokan tahun dari kalender Buddha adalah tahun Sang Buddha parinibbana yaitu 543 SM. Dalam artikel The Date of Birth of Prince Siddhartha Gautama, saya menghitung dan memperkirakan Sang Buddha parinibbana pada hari Senin tanggal 30 Mei 543 SM.

Pembaca umum tentu lebih mahfum dengan notasi tahun sejarah yaitu yang memakai imbuhan SM (Sebelum Masehi) untuk angka tahun negatif. Sistem tahun sejarah tidak mengenal tahun nol jadi sebelum tahun 1 M (Masehi) adalah tahun 1 SM (Sebelum Masehi). Namun ilmuwan eksakta lebih suka memakai notasi tahun astronomis yang mengenal tahun nol. Tabel 2 berikut menjelaskan hubungan kedua notasi yang dikaitkan dengan patokan tahun Buddha atau Era Buddha atau Buddhis Era (BE) dan Sebelum Buddhist Era (SBE).

Masehi 623
SM
..544
SM
543
SM
..1
SM
1
M
..2016
M
..
Astronomis -622..-543-542..01..2016..
Buddha 80
SBE
..1
SBE
1
BE
..543
BE
544
BE
..2560
BE
..

Formula Suriyayatra

Berhubung Shangha Theravada Indonesia saat ini memakai kalender Thailand sebagai acuan maka referensi utama dalam artikel juga berasal dari sana. Kecuali peringatan Waisak nasional yang ditentukan khas Indonesia yaitu secara astronomis, hari-hari peringatan yang lain memakai acuan kalender Thailand.

Sebuah tahun Adhikamasa atau Adhikavara dapat ditentukan dengan formula Suriyayatra(1). Formula ini sesungguhnya diturunkan berdasarkan model tata surya yang disederhanakan yaitu model lingkaran jarum jam. Kerangka dari model ini bukanlah seperti kerangka model mekanika eliptikal keplerian, dan variasi kecepatan bulan dalam orbit tidak dipertimbangkan. Oleh karena itu selalu ada ketidakakuratan pada hari tertentu antara hasil dan pengamatan yang dibuat dengan teleskop (atau melalui penglihatan dengan mata telanjang) tentang kejadian yang sebenarnya. Akan tetapi model ini, dengan adhikamasa dan adhikavaranya, telah berhasil membuat kalender Buddha tetap sinkron dengan siklus periodik dari benda-benda langit dalam jangka waktu yang cukup panjang.

Dengan formula Suriyayatra kita bisa menghitung kalender lunisolar aritmatikal Buddha Thailand, namun hasilnya tidak selalu sama dengan kalender resmi yang dikeluarkan karena kalender resmi Buddha Thailand tidak reguler sepanjang sejarahnya. Ada tahun-tahun dimana adhikavara harus ditentukan oleh Komisi Kalender Kerajaan dan keputusan komisi ini tidaklah sama dengan hasil perhitungan.

Prosedur penentuan adhikamasa dan adhikavara terdiri dari dua tahap. Tahap pertama menghitung besaran-besaran berdasarkan formula-formula atau rumus-rumus yang diberikan dan tahap kedua menentukan adhikamasa dan adhikavara memakai aturan-aturan yang diberikan. Prosedur perhitungan tahap pertama memakai konstanta-konstanta dan sebagian darinya bisa dijelaskan seperti berikut ini.

Lamanya satu Era Mahayuga adalah 800 Tahun
cEraTahun = 800 Tahun
cEraHari = 800 x 365.25875 = 292207 Hari

Hubungan antara hari matahari dan bulan adalah
1 bulan synodic = 29.53 hari
30 hari synodic = 29.53 hari
1 Tithi (1 hari synodic) = 29.53/30 hari
1 Tithi (pendekatan) = 692/703 hari
703 Tithi = 692 hari
(*) Satu bulan synodic adalah waktu yang diperlukan bulan untuk mencapai fase visual yang sama.

Penyederhanaan hubungan antara hari matahari dan bulan menjadi bilangan-bilangan integer seperti diatas sangat diperlukan agar perhitungan bisa dilakukan secara manual oleh orang awam.

cSiklusHari = 692 hari
cSiklusTithi = 703 hari
cDeltaTithi = 703 - 692 = 11 hari

Tabel 2. Berbagai Konstanta Dalam Formula Suriyayatra
KonstantaNilai Keterangan
cDeltaCS638 Selisih Masehi - CS (Chulasakkarat)
cEraTahun 800 Jumlah tahun dalam satu kurun
cEraHari 292207 Jumlah hari dalam satu kurun
cEraOffset 373 Ofset kurun Horakhun
cUEraOffset 2611 Ofset kurun Uccabala
cAEraOffset 650 Ofset kurun Avoman
cUBasis 3232 Basis untuk 360° Uccabala
cHariBulan 30 Jumlah hari dalam sebulan
cSiklusHari 692 Jumlah hari dalam satu siklus
cSiklusTithi 703 Tithi dalam satu siklus
cDeltaTithi 11 Peningkatan Tithi harian
cKDayInc 800 Kammacubala daily increase

Berikut adalah contoh prosedur perhitungan tahap pertama untuk tahun 1963 Masehi (CS 1325)

Tahun_CS = Tahun_Masehi - cDeltaCS
Tahun_CS = 1963 - 638 = 1325
a1 =(Tahun_CS x cEraHari) + cEraOffset
a1 = (1325 x 292207) + 373 = 387174648
Horakhun = int (a1 / cEraTahun) + 1
Horakhun = int (387174648 / 800) + 1 = 483969
Kammacubala = cEraTahun - (a1 mod cKDayInc)
Kammacubala = 800 - (387174648 mod 800) = 552
a2 =(Horakhun * cDeltaTithi) + cAEraOffset
a2 = (483969 * 11) + 650 = 5324309
b =int (a2 / cSiklusHari)
b = int (5324309 / 692) = 7694
Avoman = a2 mod cSiklusHari
Avoman = 5324309 mod 692 = 61
Masaken = int ((b + Horakhun) / cHariBulan)
Masaken = int ((7694 + 483969 / 30) = 16388
Tithi = (b + Horakhun) mod cHariBulan
Tithi = (7694 + 483969) mod 30 = 23
Uccabala = (Horakhun + cUEraOffset) mod cUBasis
Uccabala = (483969 + 2611) mod 3232 = 1780

Dan selanjutnya adalah prosedur tahap kedua yaitu menentukan adhikamasa dan adhikavara berdasarkan hasil-hasil diatas.

Aturan Adhikamasa

Sebuah tahun mungkin merupakan adhikamasa:
  • IF 24 >= Tithi <=29,
  • OR 0 >= Tithi <= 5,
  • THEN tahun mungkin adhikamasa.
Akan tetapi:
  • IF tahun berikutnya (tahun + 1) juga memenuhi persyaratan diatas,
  • THEN tahun bukanlah adhikamasa, dan tahun berikutnya (tahun + 1) adalah adhikamasa.
Adhikamasa tidak diperkenankan terjadi dalam tahun yang berturutan, dan jarak diantaranya yang diijinkan adalah maksimum 2 tahun. Jika tahun berikutnya memenuhi persyaratan, maka adhikamasa akan ditugaskan kepada tahun tersebut dan bukan tahun yang sekarang. Pada contoh diatas untuk tahun CS 1325, Tithi sama dengan 23, dan tidak memenuhi persyaratan pertama, jadi tahun ini bukan adhikamasa.

Aturan Adhikavara

Tentukan terlebih dahulu apakah sebuah tahun adalah kabisat atau tidak:
  • IF Kammacubala <= 207,
  • THEN tahun adalah kabisat.
Tahun mungkin merupakan adhikavara:
  • IF tahun adalah kabisat DAN Avoman <= 126,
  • THEN tahun mungkin adhikavara.
  • ELSE IF tahun adalah bukan kabisat DAN Avoman <= 137,
  • THEN tahun mungkin adhikavara.
Namun:
  • IF tahun adalah adhikamasa,
  • THEN tahun tidak boleh dijadikan adhikavara.
  • ELSE IF terdapat adhikavara tunggakan* dari tahun sebelumnya,
  • THEN tahun ini akan menjadi adhikavara.

Pada contoh diatas untuk tahun CS 1325: Tahun tersebut bukan adhikamasa, jadi kita harus memeriksa adikavara. Kammacubala sama dengan 552 jadi bukan kabisat. Avoman sama dengan 61, jadi tahun memenuhi syarat sebagai adhikavara.

Sekarang jika kita telah mangetahui apakah sebuah tahun adalah adhikamasa, adhikavara atau reguler maka tanggal-tanggal uposatha bisa dirancang mengikuti Tabel 3 dan Table 4.

Tabel 3. Tanggal Uposatha Tahun Reguler dan Adhikavara
Musim Dingin (Hemantotu)
1 Magasira15 Magasira
1 Phusa 15 Phusa
1 Magha 15 Magha
1 Phagguna 15 Phagguna
Musim Panas (Gimhotu)
1 Citta 15 Citta
1 Visakha 15 Visakha
1 Jettha 15 Jettha
1 Asalha 15 Asalha
Musim Hujan (Vassanotu)
1 Savana 15 Savana
1 Bhaddapada 15 Bhaddapada
1 Pavarana 15 Pavarana
1 Kattika 15 Kattika
Musim Dingin (Hemantotu)
1 Magasira 15 Magasira
1 Phusa 15 Phusa

Tabel 4. Tanggal Uposatha Tahun Adhikamasa
Musim Dingin (Hemantotu)
1 Magasira15 Magasira
1 Phusa 15 Phusa
1 Magha 15 Magha
1 Phagguna 15 Phagguna
Musim Panas (Gimhotu)
1 Citta 15 Citta
1 Visakha 15 Visakha
1 Jettha 15 Jettha
1 Asalha I 15 Asalha I
1 Asalha II 15 Asalha II
Musim Hujan (Vassanotu)
1 Savana 15 Savana
1 Bhaddapada 15 Bhaddapada
1 Pavarana 15 Pavarana
1 Kattika 15 Kattika
Musim Dingin (Hemantotu)
1 Magasira 15 Magasira

Meskipun demikian, hasil perhitungan kalender ini belum tentu sama dengan yang diputuskan oleh Komite Kalender. Mereka merencanakan beberapa tahun ke depan, dan mungkin menetapkan adhikavara kepada tahun yang berbeda untuk alasan yang tidak kita ketahui. Dalam dua dekade yang lalu (1977 - 1997), teramati setidaknya ada tiga tahun dimana adhikavara tidak reguler, dan tahun-tahun sesudahnya selalu sama dengan perhitungan rumus Suriyayatra(1).

(*)Adhikavara tunggakan artinya adalah bahwa tahun sebelumnya memenuhi persyaratan baik sebagai adhikamasa maupun adhikavara, jadi tahun tersebut tidak diijinkan untuk ditugaskan sebagai adhikavara, melainkan akan "dibawa" dan selanjutnya ditugaskan sebagai adhikavara kepada tahun berikutnya. Di Thailand, tahun adhikamasa (tahun dengan bulan Asalha tambahan) tidak diperkenankan untuk jatuh bersamaan dengan tahun adhikavara (tahun dengan penambahan satu hari pada bulan Jettha), sedangkan di Myanmar hal tersebut diperbolehkan.

Hari Raya Agama Buddha

Magha Puja ('Hari Raya Sangha'): Tanggal 15 Magha.
Memperingati pertemuan spontan 1.250 Arahat kepada mereka Buddha memberikan nasihat mengenai dasar-dasar dari Disiplin (Ovada Patimokkha).

Vesakha Puja ('Hari Raya Buddha'): Tanggal 15 Visakha.
Memperingati kelahiran, pencerahan dan wafat dari Sang Buddha.

Asalha Puja ('Hari Raya Dhamma'): Tanggal 15 Asalha.
Memperingati kothbah pertama Buddha, diberikan kepada lima orang samana di Taman Rusa di Sarnath, dekat Varanasi. Tradisi Retreat (Vassa) Musim Penghujan dimulai pada hari berikutnya.

Hari Awal Vassa: Tanggal 16 Asalha.
Hari ini menandai awal dari tiga bulan masa Vassa (retreat).

Pavarana Day (Hari Akhir Vassa): Tanggal 15 Pavarana.
Hari ini menandai akhir dari tiga bulan masa Vassa (retreat). Selama bulan berikutnya, orang awam bisa menyumbangkan jubah Kathina sebagai bagian dari upacara sedekah umum.

Hari Awal Kathina = Tanggal: 16 Pavarana.
Hari Akhir Kathina = 15 Kattika;

Rujukan:

1. Gambhiro Bhikkhu & Hasapanno Bhikkhu, Calculating The Uposatha Moondays, v1.0 - 24th November 2015.
2. Wikipedia. Buddhist Calendar
3. Wikipedia. Thai Lunar Calendar