Showing posts with label Kalender Jawa. Show all posts
Showing posts with label Kalender Jawa. Show all posts

Tuesday, October 29, 2019

Kalender Jawa Dina Ala Lan Dununge Wuku

Kalender Jawa
Dina Ala Lan Dununge Wuku

Tahun      

Loader.gif

Keterangan Dina Ala Lan Dununge Wuku
Latar belakang hijau = Hari bebas Ala.
WALER SANGKER
C = Tangise Dewi SintaT = Kala Tinantang
O = Anggara Kasih P = Nuju Pati
W = Taliwangke D = Dungulan
N = Nuju Padu A = Sampar Wangke
Z = Dina ora kanggonan tanggal X = Sarik Agung
R = Ringkel Jalma M = Kalamendhem
K = Kala Dite
NAAS SANGAR
NTn = Naas TaunNWl = Naas Wulan
STn = Sangar TaunSWl = Sangar Wulan
STg = Sangar TanggalRWk = Rebo Wekasan
NNb = Naas NaviBSn = Bulan Sunya
Bgs = BangasGTn = Galengan Taun
NTg = Naas TanggalKTn = Kunarpane Taun
## = DUNUNGE WUKU
TL = Timurlaut / LorwetanS = Selatan / Kidul
B = Barat / KulonD = Duwur = Atas
TG = Tenggara / KidulwetanU = Utara / Lor
N = Ngisor = BawahBD = Baratdaya / Kidulkulon
BL = Baratlaut / LorkulonT = Timur / Wetan
WUKU
Kurant = KurantilMondos = Mondisio
Gumbre = GumbregJulPuj = Julung Pujut
WarLit = Warig AlitKuruwe = Kuruwekut
WarGun = Warig AgungMarake = Marakeh
JulWan = Julung WangiMdKung = Medang Kungan
Sungsa = SungsangManahi = Manahil
Galung = GalunganPraban = Prangbakat
Kuning = KuninganWatuGu = Watu Gunung
Langki = Langkir
WULAN
Bakda = BakdamuludJumAk = Jumadilakhir
JumAw = JumadilawalDulka = Dulkangidah
WARSA
Jimaw = JimawalJumak = Jumakir

Semoga bermanfaat....

Rujukan:
H. Djanudji, Penanggalan Jawa 120 Tahun Kuruf Asapon, Dahara Prize, Semarang, 2013


Monday, October 7, 2019

Perhitungan Siklus Wuku (Pawukon)

Wuku adalah nama sebuah siklus waktu yang berlangsung selama 30 minggu. Ketigapuluh Wuku tersebut diberikan nama-nama keluarga Prabu Watu Gunung yang beristrikan Dewi Sinta dan Dewi Landep dari kerajaan Giling Wesi. Diceritakan bahwa Dewi Landep tidak mempunyai anak sedangkan Dewi Sinta melahirkan putra yang selalu kembar sampai 13 kali ( kecuali yang nomor 14 ) sehingga jumlah putra sang prabu menjadi 27 orang :
    1. Raden Wukir kembar dengan Raden Kurantil
    2. Raden Tolu kembar dengan Raden Gumbreg
    3. Raden Warigalit kembar dengan Raden Warigagung
    4. Raden Julungwangi kembar dengan Raden Sungsang
    5. Raden Galungan kembar dengan Raden Kuningan
    6. Raden Langkir kembar dengan Raden Mandasiya
    7. Raden Julungpujud kembar dengan Raden Pahang
    8. Raden Kuruwelut kembar dengan Raden Marakeh
    9. Raden Tambir kembar dengan Raden Madangkungan
    10. Raden Maktal kembar dengan Raden Wuje
    11. Raden Manahil kembar dengan Raden Prangbakat
    12. Raden Bala kembar dengan Raden Wugu
    13. Raden Wayang kembar dengan Raden Kuwalu
    14. Raden Dukut tidak kembar


Karya Herjaka HS (1993) www.tembi.org

Pergerakan siklus dimulai dari tanggal 26 April 408. Tanggal ini adalah wuku pertama yang diberi nama wuku Sinta, Seminggu atau 7 hari setelahnya nama wuku berganti menjadi wuku Landep, kemudian berturut nama wuku berubah setiap minggunya sesuai urutan kelahiran anak-anak dewi sinta. Wuku penutup adalah wuku Watu Gunung, setelah itu (setelah 30 x 7 = 210 hari) siklus dimulai kembali ke asal wuku Sinta.

Perhitungan wuku dalam bahasa Jawa disebut pawukon, perhitungan ini terutama masih digunakan di dalam adat Bali dan adat Jawa. Salah satunya adalah untuk menggambarkan perwatakan seseorang sesuai dengan wuku kelahirannya.
Tanggal:


Rumus-rumus yang berhubungan dengan perhitungan wuku adalah sebagai berikut:
Rumus Nomor Wuku
A = ((Rentang mod 210) + 210) mod 210
Nomor_Wuku = Int(A / 7);

dimana
  • Rentang = jumlah hari antara 21 Mei 2000 dan tanggal lahir, nilainya negatif apabila tanggal lahir sebelum 21 Mei 2000.
  • mod adalah operasi matematika sisa pembagian, dan
  • Int adalah operasi matematika pembagian integer.
  • Wuku pertama atau wuku Sinta bernomor urut 0.

Rumus Invers
Tanggal berapa wuku nomor W, 0 <= W <= 29 jatuh? Jawabannya tidak tunggal yaitu:

TanggalA = 21 Mei 2000 + (W x 7) hari.
TanggalB = TanggalA ± (N x 210) hari.
TanggalWuku = {TanggalB, TanggalB + 1, TanggalB + 2, .....,TanggalB + 6}

dimana
  • W adalah nomor wuku 0<= W <=29.
  • N adalah bilangan bulat.
  • Operasi ± adalah pilihan. Untuk mencari tanggal wuku sebelum 21 Mei 2000 gunakan operasi pengurangan (-). Untuk tanggal sesudah 21 Mei 2000 gunakan operasi penjumlahan (+).
Semoga bermanfaat.

Rujukan:

H. Djanudji, Penanggalan Jawa 120 Tahun Kuruf Asapon, Dahara Prize, Semarang, 2013

http://www.primbon.net/

Wednesday, November 8, 2017

Warsa, Lambang dan Windu Dalam Kalender Jawa

Kalender Jawa merupakan sistem kalender aritmatika yang paling lengkap didalam hal siklus yang terkandung didalamnya.

SiklusPerioda
Dina Pitu7 hari
Pasaran 5 hari
Weton 7 x 5 = 35 hari
Wuku 30 x 7 = 210 hari
Kuruf 120 tahun
Warsa 8 x 1 tahun
Lambang 2 x 8 tahun
Windu 8 x 8 tahun

Sepintas lalu angka-angka pada tiga siklus terakhir terlihat seperti sistem biner. Apabila kata 'tahun' ditukar dengan 'bit' (binary digit) maka akan diperoleh satuan ukuran dari dunia komputer, Byte, Word, dan Quadword. Sayangnya yang menjadi basis adalah bilangan 8, bukan 2 (biner). Mengapa demikian? Karena panjang rerata satu tahun kalender Jawa adalah 354.375 hari sehingga sebuah perwakilan bilangan bulat (integer) yang memudahkan perhitungan baru bisa diperoleh setelah kalender melewati interval 8 tahun (8 x 354.375 = 2835 hari).

Batara Kala
Batara Kala Cadi Jago

Baca seluruhnya...

Nama-nama Warsa, Lambang dan Windu Kalender Jawa

Warsa IdWarsa
Alip 0
Ehe 1
Jimawal 2
Je 3
Dal 4
Be 5
Wawu 6
Jumakir 7

LambangIdLambang
Kelawu0
Langkir1

WinduIdWindu
Adi0
Kuntara1
Sengara2
Sancaya3

Cara Menghitung Warsa, Lambang, dan Windu

Hal pertama yang diperlukan adalah tanggal patokan (epoch). Disini saya menggunakan tanggal dimulainya kuruf Asapon (Selasiyah) 24 Maret 1936 dengan data-data sebagai berikut:

Masehi 24 Maret 1936 M
Arab 1 Muharram 1355 H
Jawa 1 Sura 1867 AJ
Kuruf Asapon
Windu Adi
Lambang Langkir
Warsa Alip

Cara Menghitung Windu
RentangHari = Jumlah hari antara tanggal patokan dan tanggal input
A = Sisa pembagian (RentangHari / 11340)
Windu = Hasil pembagian integer (A / 2835)

Cara Menghitung Lambang
RentangHari = Jumlah hari antara tanggal patokan dan tanggal input
A = Sisa pembagian (RentangHari / 5670) + 2835
B = Sisa pembagian (A / 5670)
Lambang = Hasil pembagian integer (B / 2835)

Cara Menghitung Warsa
RentangHari = Jumlah hari antara tanggal patokan dan tanggal input
A = Sisa pembagian (RentangHari / 2835)
U = {354, 355, 354, 355, 354, 354, 354, 355}
I = 0
X = A - U(I)
Ulangi statemen-statemen berikut ini:
Jika X lebih besar nol Maka
    {
    A = A - U(I)
    I = I + 1
    X = A - U(I)
    }
Jika X lebih kecil atau sama dengan nol Maka berhenti mengulang dan, Warsa = I


Semoga bermanfaat.

Rujukan

H. Djanudji, Penanggalan Jawa 120 Tahun Kuruf Asapon, Dahara Prize, Semarang, 2013

R.Bratakesawa, Almanak Atusan Taun, Penjebar Semangat, Surabaja, 1968

http://www.babadbali.com/pewarigaan/kalender-jawa.htm

Wednesday, September 6, 2017

Cara Konversi Tanggal Masehi Ke Jawa Kuruf Asapon

Kalender Jawa Kuruf Asapon dimulai sejak tanggal 24 Maret 1936 dan akan berakhir pada tanggal 25 Agustus 2052. Kuruf-kuruf sebelumnya yang sudah lewat adalah Awahgi, Amiswon, dan Aboge. Perlu diketahui bahwa penyematan nama kuruf Asapon dalam judul postingan ini memang disengaja karena setiap kuruf mempunyai peraturan sendiri mengenai sebaran jumlah hari dalam setiap bulan kalender. Kenyataan ini menyebabkan algoritma perhitungan kalender untuk setiap kuruf tidak bisa sama melainkan dengan sedikit perbedaan. Bagi yang ingin mengetahui tentang kuruf bisa membaca artikel Kuruf Dalam Kalender Jawa yang diposting beberapa waktu lalu.


Baca seluruhnya...

Ciri khas dari kalender Jawa adalah adanya siklus delapan tahunan (windu). Nama-nama tahun siklus windu berturut-turut adalah Alip, Ehe, Jimawal, Je, Dal, Be, Wawu, dan Jumakir. Tahun Ehe, Je, dan Jumakir disebut juga tahun kabisat karena jumlah hari tahunnya ada 355 hari. Sedangkan yang lainnya disebut tahun biasa dengan jumlah hari setahunnya 354 hari. Dengan demikian jumlah keseluruhan hari dalam satu siklus windu adalah 2835 hari.

Sebagai kalender aritmatika, keduabelas bulan dari kalender Jawa mempunyai jumlah hari yang tetap dan dalam kuruf Asapon ditetapkan berselang-seling antara 30 dan 29 hari. Kecuali bulan kedua belas atau bulan Besar yang masih harus ditentukan berdasarkan apakah tahun yang sedang berjalan adalah tahun kabisat yakni Ehe, Je, atau Jumakir atau bukan. Pada tahun Ehe, Je, atau Jumakir jumlah hari dari bulan Besar adalah 30 hari dan diluar ketiga tahun tersebut bulan Besar berjumlah 29 hari. Khusus pada hari terakhir kuruf yang merupakan tahun kabisat (Jumakir) bulan Besar hanya 29 hari karena hari yang ketigapuluh harus ditiadakan (dikuruf).

Tabel 1. Kurun Waktu Kuruf Asapon
Masehi 24 Maret 1936 - 25 Agustus 2052
Jawa 1 Sura 1867 - 29 Besar 1986
Arab 1 Muharram 1355 - 30 Dzulhijah 1474

Tabel 2. Jumlah Hari Bulan Kuruf Asapon
NoBulanJumlah Hari
1 Sura 30
2 Sapar 29
3 Mulud 30
4 Bakmulud 29
5 Jumadilawal 30
6 Jumadilakir 29
7 Rejeb 30
8 Ruwah 29
9 Pasa 30
10 Sawal 29
11 Sela 30
12 Besar 29/30
Jumlah 354/355

Tabel 3. Jumlah Hari Siklus Windu Kuruf Asapon
Tahun
Siklus Windu
Jumlah Hari
Bulan Besar
Jumlah Hari
Tahun
Alip 29 354
Ehe 30 355
Jimawal 29 354
Je 30 355
Dal 29 354
Be 29 354
Wawu 29 354
Jumakir 30 355
Jumlah hari sewindu 2835

Algoritma Konversi

Berikut ini adalah delapan tahap untuk mengubah sebuah tanggal kalender Masehi menjadi tanggal kalender Jawa. Pendekatan yang digunakan adalah pendekatan sederhana yaitu mengurangi rentang hari dengan jumlah hari windu, tahun, dan bulan yang telah lewat dari tanggal patokan 1 Sura 1867. Selama proses pengurangan tersebut jumlah windu, tahun, bulan yang terlampaui dicatat untuk kemudian dijadikan sebagai hasil konversi.

1. Menghitung rentang hari.
Jarak = R + 1
dengan R = Rentang hari antara 24 Maret 1936 s/d tanggal yang hendak dikonversikan. Maksimum tanggal 25 Agustus 2052.

2. Menugaskan variabel larikan (array).
UmurBulan[0]  =30, UmurBulan[1]  =29
UmurBulan[2]  =30, UmurBulan[3]  =29
UmurBulan[4]  =30, UmurBulan[5]  =29
UmurBulan[6]  =30, UmurBulan[7]  =29
UmurBulan[9]  =30, UmurBulan[9]  =29
UmurBulan[10]=30, UmurBulan[11]=29

UmurTahun[0]=354, UmurTahun[1]=355
UmurTahun[2]=354, UmurTahun[3]=355
UmurTahun[4]=354, UmurTahun[5]=354
UmurTahun[6]=354, UmurTahun[7]=355

3. Menghitung variabel penting.
Windu= pembagian integer INT(Jarak/2835);
SisaHari = Jarak - (Windu * 2835);

4. Menghitung angka tahun Jawa
Warsa = 0
X = SisaHari - UmurTahun[Warsa]

Ulangi statemen-statemen berikut ini:
Jika X lebih besar nol Maka
{
SisaHari = SisaHari - UmurTahun[Warsa]
Warsa = Warsa + 1
X = SisaHari - UmurTahun[Warsa]
}

Jika X lebih kecil atau sama dengan nol Maka berhenti mengulang dan,
TahunJawa = Warsa + Windu * 8 + 1867

5. Set umur bulan kesebelas (bulan Besar) menjadi 30 hari jika tahun kabisat.
Jika Warsa = 1 (Ehe) atau Warsa = 3 (Je) atau Warsa = 7 (Jumakir) Maka UmurBulan[11]=30

6. Menghitung angka bulan Jawa
Wulan = 0
X = SisaHari - UmurBulan[Wulan]

Ulangi statemen-statemen berikut ini:
Jika X lebih besar nol Maka
{
SisaHari = SisaHari - UmurBulan[Wulan]
Wulan = Wulan + 1
X = SisaHari - UmurBulan[Wulan]
}

Jika X lebih kecil atau sama dengan nol Maka berhenti mengulang dan,
BulanJawa = Wulan + 1

7. Menghitung angka tanggal Jawa
TanggalJawa = SisaHari

8. Selesai
Hasil konversi: TahunJawa, BulanJawa, dan TanggalJawa.


Semoga bermanfaat.

Rujukan

H. Djanudji, Penanggalan Jawa 120 Tahun Kuruf Asapon, Dahara Prize, Semarang, 2013

R.Bratakesawa, Almanak Atusan Taun, Penjebar Semangat, Surabaja, 1968

http://www.babadbali.com/pewarigaan/kalender-jawa.htm

Sunday, June 4, 2017

Hari Baik Memulai Usaha Ala Jawa

Menurut H. Djanudji dalam bukunya Penanggalan Jawa 120 Tahun Kuruf Asapon disebutkan bahwa ada dua jenis hari baik untuk usaha yaitu hari baik untuk mulai berdagang dan hari baik untuk mulai berdagang di jalanan. Saya menginterpretasikan bahwa yang pertama adalah untuk usaha dagang barang maupun jasa dengan tempat usaha yang tetap sedangkan yang kedua adalah untuk tempat usaha bergerak termasuk berdagang lewat internet. Hari baik memulai usaha dagang yang dimaksud adalah hari ke empat atau hari Yamadipati dari siklus Hastawara Padewan, sedangkan hari baik untuk memulai usaha dagang bergerak adalah hari ke lima atau Nohan (Rembulan) dari siklus Nawawara Padangon dari almanak Jawa

Baca seluruhnya...

Pemilahan (seleksi) perlu dilakukan terlebih dahulu agar hari-hari larangan dan hari-hari tidak baik bisa dikesampingkan dari daftar hari yang disediakan sehingga nantinya hari baik untuk memulai usaha bisa dipilih dari daftar hari yang telah bebas dari hari-hari larangan dan tidak baik.

Terdapat dua sumber atau dasar penggolongan larangan dalam numerologi Jawa yaitu larangan yang berdasarkan kepada pawukon (wuku) dan yang berdasarkan kepada tanggal, bulan, tahun, dan warsa kalender Jawa. Larangan atau yang lebih dikenal dengan nama Waler Sangker adalah waktu yang menjadi larangan, baik yang berdasarkan pawukon maupun bukan, dan perlu dihindari atau dicarikan jalan keluar agar terhindar dari bahaya dan malapetaka. Waler Sangker yang berasal dari pawukon, antara lain :
  • Tangise Dewi Sinta
  • Anggara Kasih
  • Taliwangke
  • Nuju Padu
  • Dina Ora Kanggonan Tanggal
  • Ringkel Jalma
  • Kala Dite
  • Kala Tinantang
  • Nuju Pati
  • Dungulan
  • Sampar Wangke
  • Sarik Agung
  • Kala Mendhem
  • Jabung Kala Wuku Jaya Bumi
Dan yang berdasarkan tanggal, bulan, tahun, dan warsa adalah sebagai berikut:
  • Bulan Sunya
  • Bangas
  • Rebo Wekasan
  • Naas Tahun
  • Sangar Tahun
  • Naas Wulan
  • Sangar Wulan
  • Naas Tanggal
  • Sangar Tanggal
  • Galengan Taun
  • Kunarpane Taun
Jabung Kala Wuku Jaya Bumi mempunyai pengertian tempat angker dan dilarang untuk mendatangi atau menuju ke arah tempatnya wuku akan tetapi mengarah/menghadap ke tempatnya adalah jaya. Jika kita melawan musuh usahakan musuh berada ditempat wuku dan kita berhadapan dengannya.

Melalui perhitungan yang rinci diketahui bahwa jumlah hari larangan berdasarkan pawukon adalah sebanyak 140 hari per 210 hari siklus pawukon atau 67%, sedangkan jumlah hari buruk berdasarkan tanggal, bulan, tahun, dan warsa adalah sebesar 178.625 hari per satu tahun kalender Jawa atau 50%. Jadi kita tidak akan mendapatkan terlalu banyak hari baik yang bertepatan dengan hari Yamadipati atau Nohan (Rembulan).Berikut adalah daftar hari baik memulai usaha yang diperoleh melalui proses yang dijelaskan diatas.

Daftar Hari Baik Mulai Usaha Dagang
Je Sura 1950 - Dal Bakdamulud 1951
MasehiJawaDununge Wuku
29-Oct-201627-Sura-1950 Utara
01-Jan-20172-B.Mulud-1950 Utara
02-Feb-20175-J.Awal-1950 Barat
14-Mar-201715-J.Akhir-1950 Utara
30-Jul-20176-Sela-1950 Utara
07-Aug-201714-Sela-1950 Baratdaya
29-Nov-20179-Mulud-1951 Baratlaut
23-Dec-20173-B.Mulud-1951 Utara

Daftar Hari Baik Mulai Usaha Dagang Bergerak
Je Sura 1950 - Dal Bakdamulud 1951
MasehiJawaDununge Wuku
28-Oct-201626-Sura-1950 Utara
03-Dec-20163-Mulud-1950 Tenggara
07-Feb-201710-J.Awal-1950 Tenggara
15-Mar-201716-J.Akhir-1950Utara
13-Jun-201718-Pasa-1950 Timurlaut
01-Jul-20176-Sawal-1950 Tenggara
05-Sep-201713-Besar-1950 Tenggara
11-Oct-201719-Sura-1951 Utara
22-Dec-20172-B.Mulud-1951 Utara

Yen ingkang sukses ojo lali karo ingsun. Semoga bermanfaat.

Rujukan

H. Djanudji, Penanggalan Jawa 120 Tahun Kuruf Asapon, Dahara Prize, Semarang, 2013

Thursday, May 18, 2017

Weton Dalam Kalender Jawa

Dalam terminologi matematika Weton dalam kalender Jawa adalah sebuah Himpunan Pasangan Berurutan. Anggota dari himpunan Dina = {Minggu, Senen, Selasa, Rabu, Kamis, Jumat, Sabtu} dipasangkan sampai habis dengan anggota dari himpunan Pasaran = {Pahing, Pon, Wage, Kliwon, Legi}. Jika anggota himpunan diwakili oleh angka maka dapat kita nyatakan: Dina = {0, 1, 2, 3, 4, 5, 6} dan Pasaran = {0, 1, 2, 3, 4} dan himpunan hasil Weton = { (0,0), (1,1), (2,2), (3,3), (4,4), (5,0), (6,1), .....(5,3), (6,4)}.

Baca seluruhnya...

Angka Identitas Elemen Weton

Agar bekerja dengan perhitungan Weton menjadi lebih mudah maka setiap elemen atau anggota himpunan Weton diberikan identitas. Caranya bisa bermacam-macam tetapi dua cara seperti diperlihatkan oleh Tabel 1 dibawah ini adalah cara yang lazim dilakukan orang.

Tabel 1. Angka Identitas Elemen Weton
WetonId Weton 1Id Weton 2
DinaPasaran
0 Minggu 0 Pahing00 0
1 Senen 1 Pon 11 1
2 Selasa 2 Wage 22 2
3 Rabu 3 Kliwon33 3
4 Kamis 4 Legi 44 4
5 Jumat 0 Pahing50 5
6 Sabtu 1 Pon 61 6
0 Minggu 2 Wage 02 7
1 Senen 3 Kliwon13 8
2 Selasa 4 Legi 24 9
3 Rabu 0 Pahing30 10
4 Kamis 1 Pon 41 11
5 Jumat 2 Wage 52 12
6 Sabtu 3 Kliwon63 13
0 Minggu 4 Legi 04 14
1 Senen 0 Pahing10 15
2 Selasa 1 Pon 21 16
3 Rabu 2 Wage 32 17
4 Kamis 3 Kliwon43 18
5 Jumat 4 Legi 54 19
6 Sabtu 0 Pahing60 20
0 Minggu 1 Pon 01 21
1 Senen 2 Wage 12 22
2 Selasa 3 Kliwon23 23
3 Rabu 4 Legi 34 24
4 Kamis 0 Pahing40 25
5 Jumat 1 Pon 51 26
6 Sabtu 2 Wage 62 27
0 Minggu 3 Kliwon03 28
1 Senen 4 Legi 14 29
2 Selasa 0 Pahing20 30
3 Rabu 1 Pon 31 31
4 Kamis 2 Wage 42 32
5 Jumat 3 Kliwon53 33
6 Sabtu 4 Legi 64 34

Meskipun mudah, yaitu cukup dengan menggandeng angka dina dan pasaran, sayangnya angka-angka yang dihasilkan oleh cara pertama ternyata tidak berurutan. Karena alasan ini, Id Weton 1 tidak bisa digunakan untuk perhitungan siklus Weton. Operasi matematika Modulus 35 atau sisa pembagian sebuah bilangan bulat dengan 35 (satu perioda siklus Weton) harus digunakan untuk menghasilkan sisa antara 0 s/d 34, seperti yang diperlihatkan oleh contoh program Javascript dibagian akhir artikel ini.


Gambar 1. Fungsi.


Gambar 2. Inverse Fungsi.

Fungsi dan Invers Fungsi

Fungsi antara Weton dan Id Weton 1 yaitu
f : weton → idweton1 = f(dina, pasaran)
dapat dengan mudah diketahui yaitu
f(dina, pasaran) = 10 x dina + pasaran
Contoh:
f(Rabu, Legi) = f(3, 4) = 30 + 4 = 34.

Invers dari fungsi yaitu:
f-1: idweton1 → weton = f-1(idweton1)
dapat dengan mudah diketahui sebagai
f-1(idweton1) = {dina | dina = int(idweton1/10), pasar | pasar = idweton1 mod 10}
Contoh:
f-1(54) = {int(54/10)=5, 54 mod 10 = 4} ={Jumat, Legi}

Sedangkan invers fungsi antara Weton dan Id Weton 2
f-1: idweton2 → weton = f-1(idweton2)
Ternyata memberikan kemudahan yang disukai programer.
f-1(idweton2) = {dina | dina = idweton2 mod 7, pasar | pasar = idweton2 mod 5}
Contoh:
f-1(23) = {23 mod 7 = 2, 23 mod 5 = 3} ={Selasa, Kliwon}

Fungsi antara Weton dan Id Weton 2 yaitu
f : weton → idweton2 = f(dina, pasaran)
tidak terlalu mudah untuk dipecahkan. Solusinya bisa diperoleh secara empiris dan bersifat nontrivial (tidak tunggal). Berikut adalah salah satu yang berhasil saya temukan.
f(dina, pasaran) = 5 x ((3 x dina + 4 x pasar) mod 7) + pasar
Contoh:
f(Jumat, Pon) = f(5, 1) = 5 x ((3 x 5 + 4 x 1) mod 7) + 1 = 5 x (19 mod 7) + 1 = 5 x 5 + 1 = 26.

Dua Rumus terakhir diatas menjadi diperlukan ketika anda mengerjakan numerologi Jawa.

Program Javascript Menghitung Weton Sebuah Tanggal

Cara menghitung weton yang digunakan adalah sama dengan Cara Menghitung Pilar Hari. Jika kita mengetahui sebuah hari patokan, misalnya, 1 Januari 2016 adalah hari Jumat Kliwon yang mempunyai id = 33, maka nomor Id Weton dari tanggal yang lain bisa dihitung dengan rumus:

A = sisa pembagian (Rentang Hari/35) + 33
B = A + 35
IdWeton2 = sisa pembagian (B/35)

Dimana Rentang Hari adalah selisih hari antara tanggal patokan dengan tanggal yang akan dicari wetonnya.


Semoga bermanfaat.

Rujukan:

Materi Matematika Pasangan Berurutan

Sunday, April 30, 2017

Kuruf Dalam Kalender Jawa

Sejak raja Mataram Sri Sultan Agung Prabu Hanyokrokusumo menetapkan hari Jumat Legi 1 Muharam 1043 H (8 Juli 1633 M ) sebagai 1 Suro 1555 AJ. Sejak itulah kalender Jawa dan Hijriah masing-masing menjalankan siklusnya. Panjang siklus satu tahun kalender Jawa adalah (5 x 354 + 3 x 355) / 8 = 354 3/8 hari sedangkan panjang siklus satu tahun kalender Hijriah adalah (19 x 354 + 11 x 355) / 30 = 354 11/30 hari.

Tampak disini bahwa satu tahun kalender Jawa lebih besar dari kalender Hijriah. Agar dalam kurun waktu yang panjang kalender Jawa tidak hanyut (drift) terhadap kalender Hijriah maka diperlukan Kuruf yaitu secara sengaja memajukan satu hari tanggal kalender Jawa atau dengan perkataan lain menghilangkan satu hari tanggal kalender disetiap penghujung siklus 120 tahunan. Tanggal yang dihilangkan tersebut adalah tanggal 30 bulan Besar tahun Jumakir (yang seharusnya 355 hari atau kabisat menjadi 354 hari saja). Jadi setelah tanggal 29 Besar tahun Jumakir kalender melompat satu hari dan melanjutkan dengan 1 Suro tahun Alip yang bertepatan dengan 1 Muharram kalender Hijriah.

Mengapa harus 120 tahun sekali?

Baca seluruhnya...

Karena dalam setahun selisihnya adalah 3/8 - 11/30 = 1/120 hari. Maka dalam 120 tahun akan berselisih satu hari. Berikut adalah perhitungan sederhananya
120 tahun kalender Jawa = 120 x 354 3/8 = 42525 hari.
120 tahun kalender Hijriah = 120 x 354 11/30 = 42524 hari.
Selisih = 42525 - 42524 = 1 hari.


Lukisan Sri Sultan Agung Prabu Hanyokrokusumo

Penting untuk dicatat bahwa pada saat itu kalender Jawa tepat mengakhiri 1215 x siklus weton (siklus 35 harian), jadi dapat dipastikan bahwa kalender telah kembali ke weton yang yang sama. Namun kalender Hijriah yang menjadi rujukan kalender Jawa sudah terlebih dahulu menutup siklus 120 tahunannya satu hari sebelumnya.

Bisa dibayangkan jika tidak dikuruf selama kurun waktu 1200 tahun kalender Jawa akan terhanyut sebanyak 10 hari dari kalender Hijriah yang menjadi kiblat atau rujukannya.

Perhitungan Kuruf

Patok Jumuwah-Legi 8 Juli 1633 M adalah tanggal yang umumnya digunakan untuk menghitung kuruf. Berikut adalah program Visual Basic untuk menghitung kapan kuruf harus dilaksanakan.


Jika program dijalankan outputnya adalah sebagai berikut.

08 Jul 1633 Jemuwah-Legi AWAHGI
11 Dec 1749 Kemis-Kliwon AMISWON
16 May 1866 Rebo-Wage ABOGE
19 Oct 1982 Selasa-Pon ASAPON
23 Mar 2099 Senen-Pahing ANENING
27 Aug 2215 Minggu-Legi AGUGI

Nama Kuruf merupakan singkatan dari tiga suku kata singkatan yaitu (A)lip (warsa pertama) + (Se(nen), Sela(sa), Re(bo), Ke(mis), (Je)mu(wah), Sab(tu)) + (Kli(won), Le(gi), Pa(ing), (Pon), wa(Ge)).

Sifat Kalender Hijriah dan Riwayat Pengkurufan Kalender Jawa

Sesungguhnya kalender Hijriah mempunyai sifat (arithmetical property) yang unik sebagai berikut.

Tanggal apapun jika kita tambahkan sejumlah hari sebesar siklus 30 tahunan kalender Hijriah (10631 hari) atau kelipatan bilangan bulatnya, misalnya 4 x 30 = 120 tahunan (42524 hari), maka kita akan kembali ke tanggal dan bulan yang sama (dan, tentu saja, dengan hari dan angka tahun yang berbeda).

Kuruf pertama dilaksanakan 42524 hari setelah 8 Juli 1633 M yaitu pada Kemis-Kliwon 11 Desember 1749 M (1675 AJ, 1163 H). Kuruf ini sudah tepat dan sesuai dengan sifat kalender Hijriah tersebut diatas. Kuruf kedua dan seterusnya seharusnya dilaksanakan setiap 42524 hari sekali seperti yang dilakukan oleh perhitungan program Visual Basic.

Namun entah bagaimana cara ini tidak konsisten dilakukan. Mungkin dianggap kurang tepat karena 8 Juli 1633 M bukan awal dari siklus 30 tahunan kalender Hijriah melainkan awal tahun ke 23 dari siklus 30 tahunan tersebut.

Kuruf kedua dilakukan 25514 hari setelah 11 Desember 1749 M (yang pertama) dan jatuh pada Rebo-Wage 20 Oktober 1819 M (1747 AJ, 1235 H) Kuruf ini sesungguhnya tidak menyebabkan kalender Jawa menjadi sejalan (aligned) dengan Hijriah seperti yang diinginkan. Sejalan dalam pengertian bahwa awal kuruf harus selalu terjadi tepat diawal siklus 30 tahunan kalender Hijriah.

20 Oktober 1819 M adalah 1 Muharram 1235 H dan satu hari sebelumnya adalah 30 Dzulhijjah 1234 H. Dari angka tahun segera dapat kita ketahui bahwa 1234 tidak habis dibagi 30. Lebih tepatnya 41 x 30 tahun + 4 tahun kalender Hijriah. Artinya keputusan ini cuma mengganti awal kuruf yang tadinya berawal di tahun ke 23 menjadi tahun ke 5 dari siklus 30 tahunan kalendar Hijriah. Tidak kurang dan tidak lebih. Jadi tetap tidak aligned dengan kalender Hijriah sebagaimana diharapkan.

Kuruf kedua bukan dilakukan karena kalender Jawa yang akan terhanyut oleh waktu yang sesungguhnya akan tetapi dilakukan karena pergantian patok yang awalnya 1 Muharram 1043 H (8 Juli 1633 M) menjadi 1 Muharram 1051 H (12 April 1641 M) yaitu awal siklus 30 tahunan terdekat dengan tanggal dimulainya kalender Jawa. Jika patok diganti maka pada suatu titik waktu setelah kuruf yang pertama pasti akan terjadi selisih 1 hari dan harus dikuruf sebelum 120 tahun kalender Hijriah sebenarnya terlewati.

Sejak Rebo-Wage 20 Oktober 1819 M (1747 AJ, 1235 H), pengkurufan kalender Jawa ditetapkan berlanjut konsisten yaitu setiap 42524 hari sekali. Kuruf resmi kalender Jawa dapat dihitung dengan program Visual Basic yang sama dengan menggunakan patokan 20 Oktober 1819 M.

Kuruf Resmi Kalender Jawa
08 Jul 1633 Jumuwah-Legi
11 Dec 1749 Kemis-Kliwon
20 Oct 1819 Rebo-Wage
24 Mar 1936 Selasa-Pon
26 Aug 2052 Senen-Pahing
29 Jan 2169 Minggu-Legi


Kuruf Ideal

Kuruf ideal adalah kuruf yang menyebabkan kalender Jawa aligned dengan Hijriah. Berikut adalah hasil perhitungan menggunakan tanggal patok 12 April 1641 M atau 1 Muharram 1051 H atau awal dari siklue 30 tahunan kalender Hijriah. Tahun 1641 M adalah tahun terdekat dengan 1633 M atau 8 tahun setelah kalender Jawa ditetapkan.

Kuruf Ideal
12 Apr 1641 Jumuwah-Legi
15 Sep 1757 Kemis-Kliwon
18 Feb 1874 Rebo-Wage
24 Jul 1990 Selasa-Pon
27 Dec 2106 Senen-Pahing

Sayang tanggal 24 Juli 1990 M sudah berlalu dan tidak ada koreksi yang dilakukan agar kalender Jawa aligned dengan Hijriah. Kesempatan lain adalah tanggal 27 Desember 2106 M. Karena akibatnya yang tidak bisa diketahui terhadap sejarah dan administrasi kesultanan, apakah akan terlaksanakan, wallahualam.

Semoga bermanfaat.

Ucapan Terima Kasih

Terima kasih saya ucapakan kepada bapak Hendro Jatmiko dari Sidoarjo, Jawa Timur, yang telah memberikan kritik dan sarannya yang tak ternilai mengenai kuruf dalam kalender Jawa. Terlebih literatur-literatur dan lembar kerja MsExcel perhitungan kurufnya.

Rujukan

H. Djanudji, Penanggalan Jawa 120 Tahun Kuruf Asapon, Dahara Prize, Semarang, 2013
R.Bratakesawa, Almanak Atusan Taun, Penjebar Semangat, Surabaja, 1968
Kalender Jawa
Kalender Hijriyah